Era Baru Virtual Reality Ala Smartphone

Era Baru Virtual Reality Ala Smartphone

Dahulu, banyak dari kita yang berharap agar teknologi nantinya bisa merubah dunia maya terasa seperti dunia nyata. Benar saja, hadirnya perangkat Virtual Reality (VR) yang massif sekarang ini mungkin jadi jawaban awal atas impian banyak orang itu.

Bagaimana VR menghadirkan sensasi menonton video, seperti kita berada ditengah-tengah lingkungan video tersebut. Atau bermain game perang FPS (First Person Shooter) seakan-akan kita seperti menjadi tentara sungguhan.

Boleh dibilang teknologi VR (Virtual Reality) kini menjadi primadona baru bagi pelaku industri teknologi maupun user. Padahal sebetulnya istilah teknologi VR bukan hal baru. Seorang penemu visioner Morton Heilig di tahun 1960-an telah berpikir jauh dan menciptakan alat yang disebut Sensorama. Alat sederhana yang menjadi cikal bakal VR.

VR terus berkembang dan lebih banyak digunakan oleh kalangan profesional seperti untuk simulasi militer, medis, atau penerbangan. Pada tahun 2012 perusahaan rintisan Oculus melihat potensi besar pada VR. Mereka menciptakan virtual reality head-mounted display yang dirancang untuk game PC.

Perusahaan yang memulai usahanya melalui kickstarter itu menjadi pionir VR generasi modern, terutama pada dunia game. Oculus rift sukses memikat para user dan bahkan menarik raksasa sosial media seperti facebook untuk membeli kepemilikannya.

Dari Oculus rift lalu bermunculan produk serupa seperti HTC Vive, bergeser ke game konsol PlayStation VR dan xbox. Namun untuk mendapatkan perangkat VR tersebut masih terbilang cukup mahal karena butuh PC dengan spesifikasi tinggi atau perangkat konsol terkini.

Smartphone; VR alternatif yang Terjangkau

Ketika Google bisa menciptakan perangkat VR untuk androidnya, tentu saja menjadi perhatian dunia dan disambut luas oleh user .

Kehadiran headset VR besutan Google yang dinamai Cardboard ini benar-benar menjawab keinginan banyak orang. Menjajal pengalaman virtual reality dengan biaya terjangkau. Bahkan Google Cardboard yang pertama, dibuat dari bahan dasar kardus dan dibandrol beberapa puluh ribu rupiah saja.

Cukup punya smartphone android dengan OS Jelly Bean keatas , lalu dilengkapi fitur sensor Accelorometer dan Gyroscope, maka semua orang bisa mencicipi sensasi virtual reality.

Sadar betul VR akan terus berkembang di perangkat smartphone, para vendor smartphone tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Samsung memulainya dengan meluncurkan Samsung Gear VR di awal tahun 2016.

VR headset seharga 1,5 jutaan itu dibuat oleh samsung bekerja sama dengan Oculus. Samsung Gear VR tidak terlalu berbeda dengan Google Cardboard yang mengandalkan layar smartphone untuk menampilkan konten virtual reality

Hanya saja nama besar Oculus dalam dunia virtual reality menjadi jaminan mutu bagi kualitas Gear VR. Salah satunya adalah meminimalisir rasa pusing dan mual saat menggunakan headset VR terlalu lama, seperti pengalaman banyak user saat menggunakan Google Cardboard generasi awal.

Samsung pun sukses menjual lebih dari 1 juta unit Gear VR pada pertengahan 2016, dan mengklaim bahwa perangkat VR-nya ini telah digunakan selama lebih dari 2 juta jam oleh user.

Penjualan di Perangkat VR ini juga menjadi strategi samsung mendongkrak penjualan smartphone-nya. Itu karena Samsung menyaratkan Gear VR hanya dapat dipasangkan pada smartphone samsung seperti Galaxy Note 5, Galaxy S6, S6 Edge, S6 Edge+, S7, dan S7 Edge. Selain itu, Gear VR juga dibundling dalam penjualan smartphone seri flagship Samsung.

LG dan Lenovo Pesaing Serius Samsung Gear VR

Ingin mengikuti sukses Samsung Gear VR, beberapa vendor smartphone akhirnya menyusul dengan meluncurkan headset VR yang kompatibel dengan smartphone. Kebanyakan tidak jauh berbeda dengan konsep Google Cardboard dan Samsung Gear VR. Namun diantara semuanya, LG dan Lenovo nampaknya akan menjadi pesaing serius bagi Samsung karena punya diferensiasi dalam produknya.

LG punya diferensiasi yang paling kentara atau malah boleh dibilang paling beda dibanding vendor smartphone yang lain. Jika yang lain masih mengandalkan layar smartphone sebagai display, maka pada headset VR besutan LG ini sudah dibekali dua layar OLED 1080p pada bagian dalamnya.

Perangkat VR yang dinamai LG 360 VR ini tinggal dihubungkan ke smartphone melalui kabel. LG sepertinya mengakomodir pandangan sebagian orang yang menganggap aneh meletakkan smartphone di depan headset VR atau di depan penglihatan user.

VR headset yang menggunakan display dari smartphone juga sering dikeluhkan terasa pusing, atau gambar 3D yang blur saat gambar mendekat ke mata. LG meminimalisir hal tersebut dengan display yang sudah dirancang khusus untuk VR.

Selain layarnya, kelebihan lain LG 360 VR adalah bobotnya yang ringan sehingga nyaman digunakan, Apalagi tidak perlu lagi memasukkan smartphone yang berat ke dalam perangkat. Dari segi desain juga solid dan punya ukuran yang kecil. Dengan pengait kepala mirip shank kacamata, tak ubahnya seperti menggunakan kacamata biasa.

Kelebihan LG 360 VR dengan display internalnya, juga menjadi sisi kekurangannya. Kesannya jadi tidak praktis karena user harus menggenggam smartphone. Bisa dibayangkan jika bermain game VR yang membutuhkan joystick, betapa repotnya harus membawa smartphone dan joystick bersamaan.

Kekurangan lain dari perangkat VR andalan LG ini ada pada pilihan smartphone-nya yang hanya kompatibel dengan produk teranyarnya LG G5. Namun tidak menutup kemungkinan LG 360 VR kedepan akan bisa digunakan oleh ponsel android lainnya yang punya spesifikasi setara.

Walaupun harganya terbilang mahal untuk headset VR smartphone, namun angka 4 jutaan rupiah itu sebanding jika dilihat dari konsep dan desain yang menjamin kenyamanan.

Menyusul dua pabrikan Korea Selatan, Samsung dan LG, vendor ternama dari negeri tirai bambu tentu tidak ingin ketinggalan. Tapi agaknya Lenovo harus menawarkan sesuatu yang lain jika ingin menyaingi Samsung dan LG.

Kalau Lenovo berfokus pada headset VR, mungkin akan susah bersaing dengan Gear VR yang didukung Oculus, atau LG dengan perangkat canggihnya. Dari situ Lenovo melihat ada celah lain yang belum dioptimalkan oleh keduanya, yakni pada konten virtual reality-nya.

Sebagai teknologi baru pada smartphone, belum banyak konten virtual reality yang beredar saat ini, sehingga pilihan user jadi terbatas. Nah, untuk mensiasati hal tersebut Lenovo menanamkan teknologi baru yang disebut TheaterMax pada ponsel terbarunya.

TheaterMax dapat mengubah semua konten multimedia apapun menjadi konten berkemampuan VR. Tanpa harus mencari aplikasi ataupun game yang khusus dirancang untuk VR, kita bisa memainkan semua aplikasi android dengan sensasi virtual reality.

Menyaksikan video seperti layaknya film layar lebar, bermain game seolah seperti bermain game konsol, semuanya melalui aplikasi android biasa namun diubah dalam bentuk side by side dan virtual reality.

Karena lebih mengandalkan TheaterMax, Lenovo tidak membuat headset VR sendiri, dan menggandeng ANTVR sebagai penyedia perangkat VR. Ada 3 smartphone Lenovo yang support dengan TheaterMax yakni Vibe K4 note, Vibe K5 Plus, dan A7000 Special Edition. Semuanya sudah dibundling dengan headset ANTVR dalam penjualannya.

Kita akan tunggu bagaimana vendor-vendor lain akan meramaikan pasar VR smartphone. Seperti Xiaomi yang tengah merilis MI VR Play, juga Huawei yang sudah sounding dengan headset VR pertamanya.

Perkembangan VR pada dunia smartphone kedepannya tentu menarik untuk ditunggu. Apakah masih dengan konsep yang sama atau ada inovasi-inovasi terbaru. Dan pastinya ceruk besar pada pasar smartphone akan memancing banyak vendor dan developer untuk membuat dunia maya semakin nyata dengan virtual reality.

Terus belajar menjadi penulis yang menginspirasi dan bermanfaat, karena menulis adalah mengukir prasasti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *